Powered by Blogger.

Mobile Menu

More News

logoblog

Siapa Bos Garuda Yang Baru, Jonan atau Susi?

16 December 2019
Setelah dipecatnya Dirut PT.Garuda Indonesia dan 4 direktur PT. Garuda Indonesia Tbk (GIAA), muncul dua nama yang santer disebut  sebagai pengganti, yakni mantan Menteri ESDM Ignasius Jonan dan mantan Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Susi Pudjiastuti.

  • Ignasius Jonan dan Susi Pudjiastuti. Ilustrasi: Bagus.co

JAKARTA, Bagus - Mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan mencoba menyampaikan perspektifnya terhadap dua orang tersebut dalam laman pribadinya, disway.id. Dahlan memberi judul  "Garuda Menteri" di tulisannya kali ini.

Menurut Dahlan Iskan, sosok Ignasius Jonan akan mampu membenahi Garuda. Masalah yang bertubi-tubi sedang menghantam Garuda.

Setelah ramai kasus manipulasi laporan keuangan tahun buku 2018, sekarang mencuat kasus penyelundupan Moge Harley Davidson dan sepeda Brompton di pesawat Garuda dalam penerbangan perdana dari Toulouse, Perancis, ke Jakarta.

Dijelaskan Dahlan, Jonan punya pengalaman di PT Kereta Api Indonesia (Persero), dan dia berhasil memimpin disana.

Atas keberhasilannya tersebut membawa Jonan dipilih Presiden Jokowi menjadi Menteri Perhubungan periode 2014-2016, meski tak lama kemudian Budi Karya Sumadi menggantikannya.

Menurut Dahlan, Jonan termasuk tipikal yang siap ditugaskan ke mana saja. Tawaran posisi Garuda 1 bisa menjadi tantangan baru Jonan.

"Ia tipe orang yang siap ditugaskan ke mana saja, Termasuk ke yang sulit-sulit".
Semangat anti korupsinya juga tinggi - meski agak aneh: "kok tidak pernah bertengkar dengan DPR".

"Kalau ia sukses membenahi Garuda itu  akan menjadi sejarah lagi baginya - KAI - Freeport - Garuda," urai Dahlan Iskan, Ahad, 15 Desember 2019

Kemampuan Jonan sudah tak lagi diragukan. Pasalnya, ia mampu mengatasi divestasi 51% saham PT Freeport Indonesia (PTFII) kepada pemerintah.

"Mampu mengatasi soal Freeport akan mudah bagi Jonan untuk membuang permainan di Garuda. Misalnya soal patgulipat dalam pembelian pesawat. Yang melibatkan institusi keuangan internasional. Yang sulit dideteksi dari dalam negeri," tulisnya.

"Sebagai orang yang aslinya 'orang keuangan' Jonan tahu semua permainan seperti itu. Dan tahu bagaimana menyingkirkannya  "kadang dengan agak kasar," jelasnya lagi.

Diakuinya, menempati posisi direktur utama tentu bukanlah jaminan, sebab tidaklah mudah.

Bila ini terjadi, kata Dahlan, Jonan akan menjadi mantan atasan pertama, dalam kapasitasnya sebagai Menteri Perhubungan sebelumnya, menjadi bawahan.

"Dan kalau Jonan jadi ke Garuda ia juga akan jadi orang pertama: mantan atasan menjadi bawahan langsung. Jonan adalah mantan Menteri Perhubungan yang membawahi Garuda. Ke depan ia yang akan jadi bawahan itu," urai Dahlan Iskan.

Meski hingga saat ini, Kementerian BUMN belum merilis siapa nama yang bakal menjadi pucuk pimpinan maskapai yang tercatat di Bursa Efek Indonesia dengan sandi GIAA itu. 

Sebab, Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) baru akan dilaksanakan 22 Januari 2020. Saat ini Plt Dirut Garuda masih dijabat Fuad Rizal yang sebelumnya Direktur Keuangan.

Nama lain yang digadang-gadang selanjutnya adalah Susi Pudjiastuti. Menteri KKP ini dinilai tegas dan sukses membangun Susi Air sehingga dinilai cocok menjadi Dirut  Garuda.

Meskipun kata Dahlan, ia tak menjamin apakah di antaranya keduanya akan didaulat menjadi Direrut di PT. Garuda Indonesia Tbk.

Namun sayang Dahlan tampaknya ragu Susi bakal mau menerima jabatan dirut Garuda. "Saya kurang yakin beliau mau. Beliau rasanya agak sewot dua tahun terakhir. Dan tambah sewot lagi setelah tidak jadi menteri karena soal benih lobster yang dulu dia larang keras untuk diekspor itu," tulis Dahlan.

Susi kemungkinan akan kembali mengurus Susi Air, maskapai penerbangan perintis miliknya sendiri. Sudah 5 tahun terakhir tidak diurusi. "Maka mungkin bukan Bu Susi yang jadi Dirut Garuda atau juga bukan Jonan," tambah Dahlan.

"Dua-duanya orang hebat. Dua-duanya juga jago dalam mengelola perusahaan. Jonan terbukti di kereta api. Susi di penerbangan. Dua-duanya juga hebat dalam menghemat biaya. Sama-sama keras dalam bersikap," urainya.