Powered by Blogger.

Mobile Menu

More News

logoblog

Baru Menjabat, Gebrakan Mentan SYL Dipuji DPR

07 December 2019
Terobosan data presesi di sektor pertanian sangat penting, sebab dari perhitungan prediksi hasil, masih ada beberapa teori dengan luasan sama, tetapi hasilnya berbeda.

  • Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo. Foto: Kementan

JAKARTA, Bagus - Terobosan Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo yang akrab disapa SYL diawal kepemimpinannya di Kementerian Pertanian (Kementan) dalam mengakselerasi kemajuan pembangunan pertanian mulai mendapat apresiasi dari anggota Komisi IV DPR RI, Endro Hermono.

Apresiasi tersebut terhadap gebrakan SYL yang fokus pada pendataan agar lanjutan data menjadi lebih baik dan satu data sebagai rujukan.

"Perbaikan datan penting, salah satunya agar penyajian data sawah, khususnya sawah-sawah sesuai peruntukannya sehingga tidak ada sawah yang ditelantarkan. Data sawah dari periode 2013 hingga 2018 mengalami penurunan sebanyak 8,38 persen," demikian ujar Endro, Sabtu (7/12/2019).

Sementara itu, sambungnya, data sawah untuk petaninya sendiri yakni dalam artian petani tidak mau mengerjakan dengan periode yang sama, menunjukan turun sekitar 23 persen.

“Kami berharap agar tanah-tanah tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal, sehingga dapat meminimalisir pencetakan sawah yang justru memiliki resiko yang lebih besar, baik itu resiko pembelian tanah, pemeliharaan tanah, maupun resiko minimnya sumber-sumber irigasi lahan persawahan,” tegasnya.

Menurut Endro, terobosan data presesi di sektor pertanian sangat penting sebab dari perhitungan prediksi hasil, masih ada beberapa teori dengan luasan sama, tetapi hasilnya berbeda. Pasalnya, masih ada beberapa teori dengan luasan sama, tetapi hasilnya berbeda.

"Kami meminta sinkronisasi cara penghitungan prediksi hasil. Kami berharap, Kementerian Pertanian dapat menuntaskan program-program yang telah dibuat," ujarnya.

Contohnya, sebut Endro, ketika ada kelangkaan jagung di Kabupaten Blitar Jawa Timur, akhirnya diberikan bibit jagung oleh Kementerian Pertanian. Tapi, karena keterbatasan, akhirnya ditanam di bawah tegakan kehutanan.

"Akibatnya, pupuk bersubsidi menjadi rebutan,” tuturnya.