Menag Ngaku Suka Celana Cingkrang, Kontroversi Cadar-Cingkrang Tutup Buku? - Bagus.co

Mobile Menu

Powered by Blogger.

More News

logoblog

Menag Ngaku Suka Celana Cingkrang, Kontroversi Cadar-Cingkrang Tutup Buku?

09 November 2019
Menteri Agama Fachrul Razi di hadapan anggota DPR dalam rapat kerja (raker) dengan Komisi VIII Kamis (7/11) mengaku suka mengenakan celana cingkrang. Itu disampaikan setelah diceramahi oleh para wakil rakyat terkait pernyataan kontroversialnya soal cadar dan cingkrang.

  • Menteri Agama Fachrul Razi (Baju batik, red) dam Wakil Menter Agama Zainut Tauhid (Jas dan kemeja putih, red) aat menghadiri rapat kerja dengan Komisi VIII DPR, Kamis (7/11). Foto: MHD/Bagua.co

JAKARTA - Fachrul datang ke raker pertamanya sebagai Menag dengan menggunakan mobil baru Toyota Crown 2.5 HV G-Executive. Turun dari mobil dengan nomor polisi RI 24, ia langsung bergegas ke ruangan Komisi VIII.

Selain didampingi sejumlah jajaran Kemenang, Fachrul juga turut ditemani Wakil Menteri Zainut Tauhid. Bagi Zainut, Komisi VIII tidak asing lagi. Sebab ia pernah tercatat sebagai anggota komisi yang membidangi agama dan sosial itu ketika menjabat sebagai anggota DPR dari Fraksi PPP.

John Kenedy Aziz sempat menggoda Zainut. Anggota DPR dari Fraksi Golkar itu mengaku senang Zainut jadi Wamen. Sebab sudah paham Komisi VIII. "Kami senang ada pak Zainut di situ. Semoga Kita tahu apa yang bapak mau, dan bapak tahu apa yang kami mau," kelakarnya.

Raker dimulai sekitar pukul 10.20 WIB, sedikit molor dari yang dijadwalkan sebelumnya: pukul 10. Rapat ini disambut antusias para anggota DPR.

Tercatat 26 orang dari 47 anggota yang hadir mengajukan pertanyaan. Sebagian besar mencerahami Menag Fachrul soal ucapannya yang kontroversial soal cadar dan celana cingkrang.

Ketua Komisi VIII Yandri Susanto tidak terkecuali. Saat membuka rapat, ia menyampaikan bahwa berdasarkan hasil rapat internal, mereka bersepakat akan membahas isu-isu aktual. Tentunya soal cadar dan celana cingkrang, yang sempat dikait-kaitkan dengan isu radikalisme.

"Seolah-olah cara berpikir orang itu ada garis lurus dengan cara berpakaian pak. Nah itu menjadi pro kontra sangat tinggi," kata Yandri, anggota DPR dari Fraksi PAN itu.

Menurutnya, masalah ini perlu diangkat agar persoalan pro kontra ini selesai. Sehingga energi bisa dipindahkan pada hal-hal konstruktif dan produktif.

Ia juga menyampaikan pernyataan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) yang menyebut bahwa radikalisme tidak ada hubungan dengan cara berpakaian seseorang.

"Kalau kita lihat bom Thamrin itu pakai blue jeans pak. Di new zealand yang nembaki mesjid itu pakaian milenial. Kelompok kriminal bersenjata di Papua itu bukan celana cingkrang yang membunuh tentara dan sipil," papar anggota DPR yang diketahui berulang tahun tepat pada hari Raker itu, 7 November, kemarin.

Kemudian Yandri mempersilahkan Menag memberikan paparan. Paparan Menang terbilang cukup panjang. Hampir sejam mantan Wakil Panglima TNI itu membacanya. Isinya antara lain soal realisasi anggaran, 12 program andalannya, dan lain-lain.

Belum lama membaca paparannya, Menag langsung dihujani interupsi. Pasalnya, apa yang dibacakan tidak sesuai dengan materi yang diedarkan pada anggota DPR. Yandri kemudian menengahi, dan memberikan kesempatan untuk Menag melanjutkan paparannya. "Toh, nanti ada kesempatan untuk mengkritisi,” kata Yandri.

Saat diberi kesempatan berbicara, mayoritas anggota DPR selalu menyelip kritik soal pernyataan kontroversial Menag. Salah satunya Ali Taher. Ia dijuluki Yandri sebagai Komisaris Utama Komisi VIII.

Ali menyampaikan pernyataannya bak gaya ceramah. Secara tak biasa, ia mengawalinya dengan membaca ta'awudz berserta artinya. Anggota komisi VIII sontak terkekeh mendengarnya. "Ada 15 pertanyaan," kelakarnya lagi disambut ketawa hadirin seisi ruangan. Namun ia berjanji akan mengelaborasinya dalam 5 menit saja.

Soal radikalisme, ia mengingatkan sejarah Nabi Ibrahim ketika berhadapan dengan Namrud, Nabi Musa dengan Firaun, hingga Nabi Muhammad dengan Abu Lahab. Menurutnya kata radikalisme adalah akar dari sebuah persoalan teologis. Yang keliru adalah menggunakan radikalisme pada konteks politik yang menghancurkan agama.

"Harap belajar lagi apa itu religion dan apa itu faith," pinta Ali. Saya sayang pada anda, makanya saya ngomong apa adanya," sambung anggota DPR dari Fraksi PAN itu.

Kritik yang hampir serupa juga datang dari partai oposisi, PKS. Ihsan Qolba Lubis meminta Menag agar tidak masuk terlalu dalam soal agama dan penafsirannya. "Biarkan penafsiran itu beragam," sarannya.

Kritik ternyata tak hanya datang dari partai di luar pemerintahan. Tapi juga anggota DPR dari partai koalisi pemerintah. Antara lain Endang Maria dari Fraksi Golkar dan Maman Imanulhaq dari PKB.

Maman mengatakan celana cingkrang bahkan saat ini sudah jadi tren mode. Karena itu ia meminta komunikasi politik Menag diperbaiki. Agar tidak mengundang kegaduhan. "Harus voice bukan noise," omel Maman.

Sementara yang mendukung Menag datang dari anggota DPR dari Fraksi PDIP Samsu Niang dan Gerindra Muklas Sidik. "Baru-baru jadi menteri langsung beri warning soal bahaya radikalisme.
Pdip mendukung statement itu," dukungnya.

Sementara Muklas yang ikut mendukung beralasan karena pakaian itu menujukkan maqam orang yang menggunakannya. Tidak boleh, kata dia untuk pergi berperang menggunakan jas. Harus baju loreng, baju tentara. Begitupun dengan ketentuan pakaian yang harus dikenakan ASN. "Bapak tidak boleh ragu-ragu, kalau manfaatnya lebih bsar dari mudharatnya go ahead," seru Muklas yang juga Wakil Ketua Komisi VIII itu.

Selain soal cadar dan celana cingkrang, gaji penyuluh agama yang lebih rendah dari penyuluh pertanian dan perikanan juga rame. Banyak anggota DPR heran kenapa gaji penyuluh hewan lebih tinggi dari gaji penyuluh manusia.

Selain itu, rendahnya serapan anggaran, panjangnya antrian haji, pengelolaan umrah, zakat dan waqaf juga ikut disinggung. Permintaan agar adanya atase agama di luar negeri yang dihuni banyak warga Indonesia juga diserukan anggota dari Fraksi PKS Hidayat Nur Wahid. Menurutnya, banyak warga Indonesia dari luar negeri yang kesulitan mengurus persoalan yang berkaitan dengan keagamaan, seperti perkawinan dan lainnya. " Malaysia saja ada atase agama di sini, Arab Saudi juga ada atase agama. Masak kita tidak ada," sentilnya.

Rapat sempat diskors pukul 1 siang Ishoma. Menag yang sempat ke Toilet dan ingin menunaikan shalat masih enggan diwawancara media. "Saya shalat dulu," kilahnya.

Tapi, setelah kembali ke forum raker, Menag tampak santai ketika menjawab polemik cadar dan celana cingkrang yang ditujukan kepadanya. "Kami mulai dari cadar dulu," katanya mengawali.

Ia mengulang kembali pernyataannya bahwa cadar dan ketakwaan itu tidak ada hubungannya. Pihaknya tidak ingin ada pemahaman yang berkembang bahwa cadar dijadikan sebagai alasan takwa.

"Tapi kalau mau pakai cadar, silahkan. Tidak pernah kami melarang," kata Menag asal Aceh itu.

Hanya saja, lanjutnya jika ada ketentuan larangan menggunakan cadar di institusi pemerintahan harus diikuti ASN. Tapi ia mempersilahkan kalau ada ASN yang ingin menggunakan cadar di rumah atau di luar kantor pemerintahan yang melakukan pelarangan.

Sementara soal celana cingkrang, ia mengaku sering mengenakannya. Fachrul bilang, ia disarankan menggunakan celana cingkrang oleh istrinya agar tidak tersandung saat menaiki tangga di masjid. Karena biasanya ia gemar menggunakan sarung.

"Karena masjid kami itu masjid di Bambu Apus itu pakai tangga. Istri saya itu bilang 'Pak jangan pakai sarung, nanti bapak keserimpet sarungnya, nanti jatuh lagi Bapak' gitu. Jadi pakai celana cingkrang biasa saja," kata Fachrul.

Sisanya, soal program dan teknis di kemenag ia menyerahkan kepada Dirjen terkait untuk menjelaskannya. Wamen Zainut Tauhid mendapat giliran sebagai penutup.

Kepada awak media usai raker, Menag mengatakan rapat berjalan dengan baik. Utamanya terkait pelayanan jemaah haji, penyuluhan hingga bidang pendidikan. Namun ia enggan menjawan ketika kembali dicecar wartawan soal cadar dan celana cingkrang yang banyak dikritik anggota DPR.

"Tadi kalian kan sudah denger, nggak usah diulang-ulanglah," tegasnya. (*)