Langkah Kuda Prabowo Masih Sulit Ditebak, Belum Ada Bidak yang Bisa Menghentikannya - Bagus.co

Mobile Menu

Powered by Blogger.

More News

logoblog

Langkah Kuda Prabowo Masih Sulit Ditebak, Belum Ada Bidak yang Bisa Menghentikannya

15 October 2019
Publik dibuat terkeder-keder dengan langkah kuda yang sedang dimainkan oleh Prabowo Subianto. Gerakannya sulit ditebak. Selain itu, belum ada bidak yang bisa menghentikannya. Kini, jalan Ketum Gerindra itu lempang bertemu bos-bos parpol bekas seterunya di Pilpres lalu. Namun, ia belum resmi menyatakan masuk ke dalam atau di luar pemerintahan saja.

  • Suasana halaman depan kediaman Ketua Umum Partai Nasdem, ketika didatangi Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, Ahad (13/10) lalu. (MHD/Bagus.co)

JAKARTA- Kunjungan ke rumah Surya Paloh pada Ahad (13/10) malam lalu ternyata bukanlah akhir. Prabowo juga mengagendakan pertemuan dengan Ketum Parpol koalisi Joko Widodo-KH Maruf Amin lainnya.

"Lagi diatur untuk ketemu Pak Airlangga Golkar, Cak Imin (PKB), semua partai saya akan (temui)," kata mantan Danjen Kopassus itu usai bertamu ke kediaman Ketum Partai Nasdem Surya Paloh, di Jakarta Selatan pada Ahad malam, (13/10).

Benar saja, agenda jumpa bos parpol selanjutnya terealisasi tadi malam. Ia mendatangi tempat Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar berkantor, di Jalan Raden Saleh, Jakarta Pusat.

Mantan Capres nomor urut 2 di Pilpres lalu itu tiba sekitar pukul 6.57 malam. Ba'da maghrib. Ia didampingi oleh sejumlah petinggi partai; Sekjen Partai Gerindra Ahmad Muzani, Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Sufmi Dasco Ahmad, Edhy Prabowo, dan Sugiono.

Meskipun pernah menjadi rival politik, kedua bos parpol itu terlihat akrab. Prabowo dan Cak Imin langsung cipika-cipiki ketika tiba di Kantor DPP PKB.

Petinggi PKB yang mendampingi Cak Imin juga menyambut hangat. Mereka adalah Hasanuddin Wahid, Hanif Dhakiri, Jazilul Fawaid, Cucun Syamsurijal, dan Daniel Johan.

Hasil pertemuannya apa?

Dalam keterangannya ketika jumpa pers, Cak Imin mengatakan pertemuan tersebut lebih banyak membahas persoalan masa depan bangsa. Ketika diberondong wartawan, terkait bagaimana sikapnya jika Gerindra masuk ke dalam pemerintahan, bos PKB itu mengaku tak masalah.

"Iya lah, enggak apa-apa, yang namanya kerja sama untuk kepentingan rakyat di mana saja, siap di mana saja," kata Cak Imin.

Sementara Prabowo, komentarnya masih sama. Ia siap dimana saja. Mau di luar atau di dalam pemerintahan. "Kita siap membantu. Kita siap mendukung," tutur politisi yang menapaki karirnya sebagai prajurit TNI itu.

Sebelum bertemu Imin dan Paloh, Ketum Gerindra sudah lebih dahulu sowan ke Istana Negara pada Jumat (11/10) lalu.. Ia berbicara empat mata dengan Presiden Joko Widodo. Jokowi membenarkan jika dalam pertemuan tersebut turut membahas soal kemungkinan Gerindra masuk ke dalam koalisi.

"Ini belum final, tapi kami bicara banyak mengenai kemungkinan Gerindra masuk ke koalisi kami," ujar Jokowi.

Baru setelahnya, Prabowo mulai melakukan safari politik. Pertama, ke kediaman Ketum Nasdem, baru kemudian ke kantor DPP PKB. Agenda bertajuk silaturahmi kebangsaan ini akan berlanjut ke Ketum-ketum parpol Jokowi lainnya.

Namun, kurang dari sepekan pelantikan Presiden dan Wakil Presiden terpilih yang akan digelar 20 Oktober mendatang, belum diketahui sikap politik seperti apa yang akan diambil Gerindra: di dalam atau di luar kabinet.

Hal itu dibenarkan anggota Fraksi Gerindra DPR Andre Rosiade. Ia mengatakan belum ada pengumuman resmi dari partainya. Akan tetapi, politisi yang terbilang vokal mengkritisi kebijakan Presiden Joko Widodo ini mengaku akan patuh dan taat terhadap apapun yang diputuskan oleh Ketumnya.

"Belum ada keputusan apapun dari pak Prabowo. Jadi, kami sami'na wa atha'na dengan keputusan beliau. Karena kami percaya pak Prabowo akan mengambil keputusan yang terbaik bagi bangsa dan negara," kata Andre yang dihubungi tadi malam.

Lalu safari politik ke bos Parpol pendukung Jokowi-Maruf dalam rangka apa?

Menurut Andre, kunjungan yang dilakukan Prabowo itu adalah dalam rangka silaturahmi kebangsaan. "Bagaimana agar tokoh yang di dalam atau di luar pemerintahan sama-sama bersatu," jelasnya.

Sebab, lanjut Andre tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini di kancah global cukup besar, seperti ancaman resesi ekonomi, ancaman keamanan, hingga ancaman ideologi radikalisme.

Tidak sama sekali menyinggung soal langkah Gerindra masuk ke kabinet pemerintahan. Sebagaimana juga dikuatkan oleh Paloh saat dikunjungi Prabowo di kediamannya.

"Jadi kalau apakah membicarakan menteri, kabinet, mau jawaban jujur? Sejujurnya saya katakan enggak ada," kata Paloh malam itu.

Soal kabinet atau jatah menteri, Juru Bicara Prabowo Subianto, Dahnil Anzar Simanjuntak bilang partainya sama sekali tidak melakukan lobi-lobi. Ia kembali menegaskan bahwa Gerindra tetap dalam posisi siap berada di luar pemerintah atau di dalam pemerintah.

"Jadi kami tidak pernah minta satu menteri, dua menteri, tiga menteri, sama sekali tidak. Jadi Pak Prabowo posisinya sangat pasif," kata Dahnil kemarin.

Meskipun Gerindra belum secara resmi diumumkan untuk berkoalisi dengan Jokowi, namun pengamat politik Ujang Komarudin melihat indikasi Gerindra masuk ke dalan koalisi semakin terang. "Hanya tinggal nunggu waktu saja," kata Ujang tadi malam.

Silaturahmi ke bos-bos parpol koalisi Jokowi memang harus dilakukan oleh Prabowo. Karena restu dari Ketum PDI Perjuangan Megawati saja tidak cukup. "Harus mendapat restu dari partai koalisi Jokowi yang lain," katanya.

Jika tidak, resistensinya akan tinggi. Alasannya, kata Direktur Eksekutif Indonesia Political Review itu, Gerindra tidak berkeringat dalam memenangkan Jokowi. Selain itu, juga berpotensi mengubah peta koalisi di internal koalisi Jokowi.

Kendati begitu, ia meyakini, partai koalisi Jokowi yang lain pasti akan menerima. Meskipun dengan berat hati.

"Sebab, gerindra akan menjadi kekuatan baru di internal koalisi Jokowi. Dan akan menggeser partai kelas menengah dan kecil dari koalisi Jokowi," pungkasnya.