Suka Duka Poligami dan Ketika Islam Melarangnya - Bagus.co - Blogger Journalism

Mobile Menu

Powered by Blogger.

More News

logoblog

Suka Duka Poligami dan Ketika Islam Melarangnya

Sunday, 7 July 2019
Melihat dinding media sosial yang sejak kemarin lusa ramai dengan pro-kontra menyikapi wacana Pemerintah Provinsi dan DPR Aceh yang ingin melegalkan poligami, membuat saya teringat pada seorang wartawati. Dia pernah menanyakan, bagaimana pendapat saya soal poligami. Juga cerita kontributor televisi swasta nasional yang beristri dua.


  • Kiwil (tengah) diapit Rochimah, istri pertama (kiri) dan Meggy Wulandari (kanan) istri keduanya. Foto: Instagram/@meggykiwil

Suatu ketika, saya lupa hari dan tanggalnya, seorang wartawati dari salah satu media nasional ternama kebetulan duduk bersebelahan dengan saya di dalam pesawat dalam perjalanan kembali ke Jakarta dari luar kota.

Saya heran kenapa dia menanyakan itu. Kening saya sempat mengernyit sejenak. Mencoba mencari kata-kata apa yang pas untuk menjawab pertanyaannya.

Sebab, saya bukan orang yang kompeten untuk menjawab pertanyaan itu. Saya bukan pakar di bidang poligami, bukan juga akademisi Islam yang hafal rujukan ayat Al-Quran dan Hadits luar kepala. Lagi pula, ini perkara sensitif. Salah jawab, bisa "berabe".

Apalagi yang nanya lebih senior. Jabatannya sudah redaktur. Meskipun hanya selisih beberapa tahun saja usianya dengan saya. Jilbabnya panjang pula. "Tentu kajian agamanya lebih kuat," gumam saya dalam hati.

Akhirnya, jawaban saya ketika itu adalah pertanyaan. Ya kodratnya wartawan, yang ada di kepalanya adalah pertanyaan. "Emang kenapa mbak?," tanya saya singkat, dengan nada suara yang saya usaha netralkan.

Lalu ia menceritakan pangkal perkara munculnya pertanyaan poligami itu, panjang lebar. Perihal istri lebih dari satu itu cukup mengganggu pikirannya. Padahal dia belum menikah.

Singkatnya. Dia hendak dilamar pria beristri satu dan sudah punya anak. Sebenarnya si wartawati punya pacar. Tapi pacar yang ditunggu-tunggu tak kunjung melamarnya. Sementara keluarga besarnya terus bertanya-tanya: kapan nikah?.

Di ibu kota, dia tinggal sendirian. Dia baru saja mengambil KPR rumah di daerah pinggiran Jakarta. Perkenalannya dengan sang pelamar juga bermula ketika si suami orang itu mengantar barang ke rumahnya.

Karena telah mengantongi nomor kontak si wartawati, si pria ini kerap menyapanya lewat Whatsapp dan berdiskusi tentang kebaikan-kebaikan dari poligami.

Saat hendak melamar, sang Pria juga mengaku sudah mendapat restu istri. Dia juga berjanji akan berlaku adil. "Apa iya suami bisa berlaku adil," tanya dia.

Di tempat terpisah, saya kemudian dipertemukan pula dengan sosok pria yang sudah berpoligami. Wartawan juga. Dia kontributor salah satu stasiun televisi terkenal.

Ia ketahuan punya istri dua setelah melakukan video call dengan anaknya. "Itu anak dari istri kedua," kata dia. "Gimana rasanya bang punya istri dua," tanya saya, penasaran. "Pokoknya kamu jangan poligami dek, ingat pesan saya," tegas dia. "Loh kok gitu bang?," respon saya.

Dia lalu menceritakan kisah pilunya semenjak beristri dua. Dia menjadi tidak akur dengan istri pertamanya. Sering bertengkar. Bawaan istri setiap melihat wajahnya adalah emosi dan marah-marah. Itu terjadi sejak dia ketahuan ingin menikah lagi.

"Rasanya mau pecah kepala," ungkapnya.

Meskipun sudah meminta ustazah, tempat pengajian istrinya untuk menjelaskan aturan di dalam islam yang membolehkan poligami, emosi istrinya tidak padam. Walau pada akhirnya, dengan terpaksa memberi izin kepada suaminya untuk menikah lagi.

Parahnya, lanjut dia, gairah seksualnya tidak lagi seperti dulu. Turun drastis. Baik setiap melihat istri pertama, maupun dengan istri kedua. "Mungkin dari 90 persen jadi 10 persen aja sekarang," ungkap dia blak-blakan.

Padahal, kata dia, istri pertamanya tergolong cantik. Bahkan lebih cantik dari istri kedua. Meskipun istri kedua lebih muda. "Awalnya iseng-iseng aja itu, godain dia (istri kedua)," ungkap dia, yang hubungan mereka kemudian berakhir serius.

Istri pertama sebetulnya sudah minta cerai sejak ia mengaku ingin menikah lagi. Tapi ia menolak. "Karena saya sama dia itu sejak zaman susah-susahnya. Waktu kita masih tinggal di rumah petakan. Dia berjuang dengan saya mulai dari nol," tuturnya.

Kini, dia harus membagi waktu dengan kedua istri. Tiga hari di istri pertama, tiga hari di istri kedua. Anak dari istri pertamanya yang masih kecil sering menanyakan ketika papanya tidak pulang, karena harus memenuhi kewajiban giliran istri kedua. "Mamanya bilang, papa kerja. Sampai sekarang dia nggak tahu," cetusnya.

Sejak beristri dua, emosinya kerap meledak-ledak. Selain sering bertengkar, dia juga mengaku pernah "main tangan". "Saya pernah tampar istri kedua saya," ungkapnya.

Beruntung, istri keduanya lebih sabar. Tidak pernah ada perlawanan atau bantahan yang keluar dari mulut istrinya, setiap dia membentak dan memarahinya. "Cuma air mata aja yang keluar. Kadang itu yang buat saya terenyuh juga," kisah dia.

Beruntung, pekerjaan bisa mengalihkan pikirannya yang penuh sesak masalah keluarga. "Ya akhirnya sibuk sama pekerjaan aja," lanjutnya.

Dari kedua cerita itu, saya lebih memilih menjadi pendengar yang budiman. Tidak dalam posisi pro maupun kontra. Hanya ada rasa penasaran: naluri wartawan.

Iseng, sambil menunggu jam deadline kelar, sementara tugas-tugas sudah dikirim, saya mencoba mencari tahu polemik poligami ini. Yang menarik perhatian saya adalah video yang diupload akun Vice Indonesia di YouTube, pertengahan September tahun lalu.

Video itu mengangkat kisah seorang suami  poligami di Bekasi, Jawa Barat. Istrinya dua. Menurut dia, poligami lebih baik dan lebih sehat daripada jajan di luar (selingkuh atau ke tempat porstitusi).

Lalu bagaimana perasaan istrinya? Istri pertamanya mengaku cemburu. Tapi kata dia, cemburu itu fitrah bagi perempuan. Rasa sakit menahan cemburu, kata dia akan diganti surga.

Namun, Nina Nurmila seorang profesor gender dan islamic studies yang telah belasan tahun meneliti perkara poligami, menerangkan bahwa Islam sebetulnya melarang poligami.

Perintah Allah di dalam Al-Quran justru adalah monogami, atau beristri satu. Menurut Prof Nina, kalangan pendukung poligami hanya mengutip ayat Al-Qur'an setengah-setengah. Tidak seutuhnya.

Praktik poligami itu, lanjut dia sudah ada sejak lama sebelum Islam datang. Lalu, Islam merevolusinya bertahap.

"Menjadi maksimal empat dulu, tapi ujungnya yang diinginkan adalah fawahidatan (satu saja), ya kan. Itu yang seringkali dikutip kan ayatnya cuma sepotong," kritiknya.

"Dicopot di tengah-tengah aja. Nikahilah perempuan dua, tiga atau empat. Udah gitu aja. Tapi, kalau kau khawatir tidak bisa berlaku adil, satu saja. Satu saja. Itu yang jarang dilanjutkan," lanjut Prof Nina.

Lalu, apa laki-laki bisa berlaku adil?

"Dalam surat yang sama ayat 129 (QS. An-Nisa'), jadi engkau nggak akan pernah bisa berbuat adil. Diantara perempuan, walaupun engkau menginginkannya," terangnya.

Redaksi, kutipan QS An-Nisa ayat 129:


 وَلَنْ تَسْتَطِيعُوا أَنْ تَعْدِلُوا بَيْنَ النِّسَاءِ وَلَوْ حَرَصْتُمْ فَلا تَمِيلُوا كُلَّ الْمَيْلِ فَتَذَرُوهَا كَالْمُعَلَّقَةِ وَإِنْ تُصْلِحُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا 


"Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara istri-istri (mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang"

Karena itu, poligami menurutnya pasti diharamkan. Karena dikhawatirkan tidak adanya keadilan.

Lebih lanjut, kecemburuan sebetulnya masuk dalam kategori kekerasan. Bukan fisik, tapi psikologis. Namun, selama ini kecemburuan tidak dianggap sebagai kekerasan psikologis. 

"Sakit. Tapi ini demi Allah, ini demi surga," kata Prof Nina menirukan alasan istri yang mau dipoligami.

"Dalam Islam itu bahagia di dunia, bahagia di akhirat. Apapun yang benar itu, pasti enak di hati lah. Kalau Allah itu maha adil, nggak mungkin donk dia menurunkan ayat-ayat yang mendukung ketidakadilan. Itu yang salah bukan Qurannya, tapi cara membacanya," pungkas Prof Nina.

Wallahu a'lam bishawab.