Powered by Blogger.

Mobile Menu

More News

logoblog

Jelang 22 Mei, Belasan Jenderal Purnawirawan Gelar Rapat Tertutup

18 May 2019
Belasan Jenderal Purnawirawan TNI dan Polri terpantau mengadakan rapat tertutup di salah satu restoran bilangan Jakarta Selatan, tadi malam WIB (17/5).

Wantimpres dan mantan Danjen Kopassus
  • Anggota Wantimpres yang juga mantan Danjen Kopassus, Jenderal (Purn) Agum Gumelar memberi keterangan kepada wartawan usai rapat tertutup dengan belasan Jenderal purnawirawan TNI/Polri. Muhammad/Bagus.co

Mula-mula yang hadir adalah Jenderal (Purn) Agum Gumelar. Eks Danjen Kopassus itu datang dengan mengenakan setelan jas hitam sekitar pukul 21.00 WIB. Beberapa saat kemudian, hadir pula Jenderal (Purn) Hendropriyono.

Selain keduanya, Jenderal (Purn) Try Sutrisno juga datang. Dia lengkap dengan baret merah. Ketika dicegat, Wakil Presiden era Soeharto ini berharap situasi pasca-Pemilu 2019 bisa kondusif. Jika ditemukan ada masalah, dia berharap bisa diselesaikan dengan jiwa besar.

"Kita harus memperkokoh persatuan dan kesatuan. Problem besar harus diselesaikan dengan jiwa besar," pesannya singkat, sambil berlalu.

Menkopolhukam Jenderal (Purn) Wiranto juga hadir, namun lolos dari cegatan wartawan. Purnawirawan bintang empat lain yang juga terpantau datang antara lain Jenderal TNI (Purn) Subagyo Hadi Siswoyo, Marsekal TNI (Purn) Djoko Suyanto, dan Jenderal Pol (Purn) Bambang Hendarso Danuri,

Selain purnawirawan bintang empat, deretan purnawirawan jenderal lain yang hadir adalah Mayjen TNI (Purn) Muchdi Purwoprandjono, Mayjen TNI (Purn) Syaiful Sulun, Letjen TNI (Purn) Kiki Syahnakri, Letjen TNI (Purn) Tarub, Irjen Pol (Purn) Soenarko dan Komjen Pol (Purn) Makbul Padmanegara.

Rapat ini baru selesai sekitar pukul 23.00 WIB. Agum Gumelar yang ditemui usai rapat mengatakan pertemuan tersebut dilakukan untuk menyikapi situasi terkini usai Pemilu 2019, khususnya jelang tanggal 22 Mei: Pengumuman hasil Pilpres 2019.

"Setelah tanggal 22, kita sangat berharap seluruh purnawirawan bersatu kembali. Menerima apapun keputusan demokrasi," harap Agum.

"Karena pada dasarnya, TNI baik darat laut, dan udara kita memang harus bersikap netral. Tapi purnawirawan sudah punya hak konstitusional yang sama dengan rakyat biasa. Mau 01 atau 02. Tapi setelah ini perbedaan tersebut harus berakhir setelah tanggal 22," lanjut Agum yang juga merupakan anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) ini.

Lebih lanjut, Agum tak dapat memungkiri adanya harapan dari sejumlah kalangan di barisan Baret Merah (Kopassus) terwakili oleh Prabowo Subianto di Pilpres 2019.

"Korps Baret Merah memang terwakili oleh pak Prabowo Subianto. Semua berharap pak Prabowo menang," kata Agum, Danjen Kopassus periode 1993-94 ini.

"Tetapi jika pada kenyataannya nggak sesuai seperti yang diharapkan. Maka dituntut untuk mampu menerima keputusan demokrasi itu. Karena ini adalah kontes demokrasi."

"Kill or to be kill itu hanya berlaku di medan pertempuran. Tapi demokrasi itu bukan medan pertempuran. Ada etika dan norma yang harus dipatuhi meskipun diluar keinginan," imbuhnya pelan.

Lebih lanjut, Agum menegaskan bahwa Kopassus adalah pasukan khusus yang siap ditugaskan kapan saja dan dimana saja untuk kepentingan bangsa dan negara. Tapi bukan untuk kepentingan kelompok atau partai.

"Baret merah itu adalah pasukan khusus yang siap ditugaskan kemana saja. Mereka rela mengorban jiwa dan raga untuk kepentingan bangsa dan negara bukan untuk kelompok atau partai," tegasnya.

"Saya sangat berharap baret merah tetap menjadi pasukan elit kebanggaan rakyat indonesia," pungkas Agum.

Untuk diketahui, rapat ini dilakukan di hari yang sama atau beberapa jam setelah pertemuan purnawirawan jenderal di kubu 02, yang digelar di Rumah Perjuangan Rakyat, Menteng Jakarta Pusat. Bedanya, purnawirawan di kubu 02 itu mendeklarasikan Gerakan Nasional Kedaulatan Rakyat, yang ditengarai menjadi pengganti gerakan people power yang sempat didengungkan kubu 02, menyikapi dugaan kecurangan Pemilu 2019 ■