Ketika Rafa Bertemu Rehan dan Abi (Tentang Kita yang Tak Jodoh Part 8) - Bagus.co - Millenial Journalism

Mobile Menu

Powered by Blogger.

More News

logoblog

Ketika Rafa Bertemu Rehan dan Abi (Tentang Kita yang Tak Jodoh Part 8)

Monday, April 8, 2019
Malam ini. Hujan turun dengan lebatnya. Bulan yang biasanya menemani, tapi malam ini tidak terlihat sama sekali. Diluar sana angin berhembus begitu kencangnya. Semua terasa sunyi.

REHAN yang duduk di ruang tamu. Pandangannya kosong. Entah apa yang ia fikirkan tapi yang pasti ia sedih dengan pernikahan ini.

Ingin rasanya ia meminta solusi yang tepat dari abi Khairil tapi beliau sudah keluar rumah. Mungkin beliau menghadiri acara pengajian di kampung sebelah. Cuma Nafia dan dirinya yang ada dirumah.

Apa yang harus ia lakukan ? Tiba-tiba ia mendengar ada orang yang mengetuk pintu dan memberi salam. Rehan membalas salam lalu membuka pintu.

Disana ia melihat dua orang pemuda yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Silahkan masuk. Mari kita duduk di ruang tamu.

Biarkan saya buatkan kalian kopi. Kalian tunggu disini sebentar. Rafa dan Ravi saling berpandangan. Keduanya penasaran. Siapa lelaki itu.

Bukankah Nafia anak satu-satunya dari abi Khairil. Oh mungkin saja lelaki itu adalah saudaranya. Sesaat kemudian Rehan keluar dari dapur dan membawa kopi dan kue bolu. Ia tersenyum melihat tamunya.

Rafa dan Ravi membalas senyum. Silahkan di minum kopinya. Jangan sungkan-sungkan. Anggap saja rumah sendiri. Rehan mempertsilahkan dua orang tamunya untuk minum. Terimaksih bang. Balas Ravi sambil tersenyum.

 Sesaat kemudian Rehan kembali mendengar ada yang mengetuk pintu. Rupanya abi Khairil sudah pulang. Oh, ada tamu rupanya. Maaf ya abi baru pulang dari acara pengajian di kampung sebelah. Dan acaranya di tunda karena hujan lebat sekali.

Ini nak Rafa sama nak Ravi ada gerangan apa datang hujan-hujan kesini. Ada yang bisa abi bantu ?

Mendengar nama Rafa yang disebut ayahnya. Nafia kaget sekali. Ia langsung keluar kamar dan berdiri di depan pintu kamar sambil mendengarkan apa yang akan disampaikan Rafa.


Mungkin ini Rafa yang lain, bukan Rafa kekasihku yang dulu. Bukankah Rafa sudah meninggal dunia. Bisiknya dalam hati. 


Maafkan saya abi. Ini langsung saja. Kedatangan saya datang kesini yang pertama adalah ingin bersilaturrahmi kesini. Saya dan Ravi adik saya ingin menyambung tali persaudaraan diantara keluarga kita dan yang kedua, maksud kedatangan saya kesini adalah saya ingin melamar putri abi. Nafia Humaira. 

Dulu, waktu saya dan Nafia masih sama-sama kuliah di Banda Aceh. Saya sudah berjanji untuk melamar dirinya dan menikah dengannya. Namun karena ada sesuatu hal akhirnya aku menundanya dan ternyata sekarang saya baru bisa datang kesini dan mengajukan niat baik saya untuk melamar putri abi.

Saya dan Nafia sama-sama saling mencintai dan cinta yang kami jalin adalah cinta yang benar-benar tulus dari lubuk hati.


Waktu di Banda Aceh, saya hanya dua kali bertemu dengan Nafia. Pertama disaat saya melihat dirinya saya langsung berkata jujur kalau saya mencintainya dan kedua disaat saya memutuskan hubungan kami.

Saya memutuskan hubungan dengan Nafia waktu itu karena saya ingin melamarnya kalau saya sudah sampai di kampung halaman. Dan malam itu kami berencana pulang kampung.

Nafia pulang bersama teman-temannya dan waktu itu saya sebenarnya pulang bersama teman-teman saya. Tapi saya menunda pulang malam itu karena saya lupa membeli hadiah ulang tahun buat adik saya Ravi.

Saya berniat pulang besok malamnya kalau saya sudah membeli hadiah buat Ravi. Namun sungguh di luar dugaan. Kejadian naas terjadi.

Mobil teman saya masuk ke jurang dan semuanya tewas. Saat itu saya sangat sedih sekali dan saya tidak mungkin memberitahu Nafia kalau mobil yang di tumpangi teman-teman saya terjun ke jurang.

Saya tidak mau Nafia sedih. Dan sekarang saya sudah disini abi. Saya ingin melamar anak abi dan saya berjanji saya akan menjaganya.

Bang, tolong terima lamaranku. Saya sangat mencintai Nafia. 

Saya akan membahagiakannya. Bukankah hal yang paling bahagia dalam hidup ini adalah disaat kita bisa bersanding dengan pilihan hati kita.

Rafa memohon kepada Rehan dengan penuh pengharapan Rafa sama sekali tidak tau kalau Rehan adalah suaminya Nafia.

Saat itu Rehan mencoba menahan airmatanya. Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam ia sangat sedih sekali dengan keadaan ini. Ingin rasanya ia membunuh lelaki yang sudah keterlaluan kepadanya.

Nafia adalah istrinya dan tidak boleh ada lelaki lain yang mencintai Nafia kecuali kematian yang memisahkan cintaku kepadanya. Bisik Rehan dalam hati.

Tiba-tiba Rafa melihat Nafia yang berdiri di depan pintu kamar. Nafia, kemarilah. Aku sudah memenuhi janjiku kepadamu. Janji untuk melamar dan menikahimu. Biarkan hujan malam ini yang menjadi saksi sucinya cinta kita.


Di hidupku yang tak sempurna namun kau adalah hal terindah yang ku punya. Kau adalah belahan jiwaku. Maukah kau menikah denganku?

Abi Khairil sungguh tidak bisa menahan airmatanya. Nafia berlari dan bersujud di hadapan suaminya. Ia mencium kaki Rehan dengan menangis sejadi-jadinya.

Maafkan aku bang. Maafkan Nafia. Abang adalah lelaki yang aku inginkan selamanya. Maafkan Nafia kalau selama ini sudah tidak perduli dengan abang.

Nafia sadar kalau selama ini Nafia salah. Mulai saat ini Nafia akan patuh dan taat kepadamu bang. Nafia berjanji akan menjadi istri yang baik untukmu. Ucap Nafia sambil menahan tangis.

Mendengar itu semua. Rafa tidak bisa menahan airmatanya. Gadis yang selama ini ia cintai ternyata sudah menikah dengan lelaki lain.

Di saat pesta pernikahan itu dirinya sama sekali tidak di undang. Saat itu ia mengalami kecelakaan dan hampir saja meninggal dunia. Itu semua ia lakukan agar ia bisa melamar Nafia.

Ia yang dari tadi memohon agar lelaki yang duduk di depannya merestui niat baiknya dan ternyata lelaki itu adalah suami Nafia.

Yaa Allah, kuatkanlah aku disaat seperti ini. aku tau semua adalah musibah. Mengapa aku mencintai istri oranglain. Mengapa yaa Allah. Mengapa cinta ini rumit. Mengapa cinta ini sakit. Mengapa cerita cinta selalu berakhir dengan airmata?

Mungkinkah cinta sejati tidak ada lagi di dunia ini. Tanpa berkata sepatah kata pun Rafa langsung keluar rumah. Ravi mengikuti dari belakang.

Kita mau kemana bang. Di luar hujan turun begitu lebatnya. Abang disini saja dulu dan abang bisa berbicara baik-baik dengan keluarga Abi Khairil. Biar semua masalah abang bisa cepat selesai.

Kalau abang pulang di tengah hujan seperti ini abang bisa sakit. Rafa tidak perduli. Ia terus melangkah keluar. Diluar hujan turun begitu lebatnya. Angin bertiup kencang. Petir terdengar bersahut-sahutan.

Rafa terus berjalan dengan langkah yang rapuh... Klik: Selengkapnya