Mendustai Rindu (Tentang Kita yang Tak Jodoh Part 1) - Bagus

Mobile Menu

Dikuasakan oleh Blogger.

More News

logoblog

Mendustai Rindu (Tentang Kita yang Tak Jodoh Part 1)

7/04/19

Apa maksudmu padaku mengatakan kalau aku bohong dengan perasaanku? Aku tau kamu tidak suka dengan sikapku yang menjalin hubungan dengan Nafia. Aku tau aku salah.    



TEPAT pukul 23:00 waktu kota Banda Aceh. Riuh kota masih terdengar jelas. Mobil yang lalu lalang masih menghiasi jalan raya.

Hidup dikota seperti tidak ada yang tertidur. Memang, kehidupan di kota sangat berbeda sekali dengan keadaan di kampung. Di kota, malam dan siang itu sama.

Yaa Allah,. Sebenarnya aku rindu. Rindu kepada orangtua yang telah melahirkanku. Dan juga dengan adikku.

Kenapa perasaan kangen ingin bertemu ini terasa begitu besar sekali? Kenapa aku rindu?

Ah, itu pertanyaan bodoh.

Padahal aku tau jawabannya adalah karena mereka telah menjadi bagian dari hidupku. Ibu, ayah dan dik Ravi. Aku merindukan kalian.

Disaat aku di perantauan seperti ini ternyata aku baru tau bahwa kalian berdua yang aku rindu. Jauh dari lubuk hatiku yang paling dalam aku ingin membahagiakan ayah dan aku juga ingin membuat ibu senang.

Aku ingin buktikan pada mereka kalau aku bisa. Aku tidak boleh kalah dalam menggapai mimpi. Aku tidak boleh kalah memperjuangkan masa depanku.

Aku tau, islam tidak melarang penganutnya untuk sukses. Bahkan, mati dalam iman dan islam adalah kesuksesan yang besar bagi seseorang.

Aku jadi teringat firman Allah Swt di dalam kitab Al Quran yang mulia.

“Yaa ayyuhal ladzina aamanuttaqullaaha haqqa tu qaatihi. Wa la tamuutunna illa wa antum muslimun” 

Hai orang-orang yang beriman. Bertaqwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa. Dan janganlah sekali-kali kamu mati kecuali dalam islam. 


Mati dalam iman dan islam adalah impian semua muslim di dunia. Bagaimana sulitnya mengalahkan nafsu jahat yang selalu datang dalam setiap waktu.

Nafsu yang sulit untuk di kendalikan.

Aku jadi teringat nasehat temanku. Namanya Azka. Dia sering menasehatiku disaat aku bertengkar dengan Nafia.

Dia selalu bilang seperti ini kepadaku.

Rafa, kamu ini pemuda yang cerdas. Kamu mahasiswa yang baik. Tapi kenapa kamu tidak mau bersikap baik kepada Nafia?

Dia itu gadis yang baik. Janganlah kau bohongi dia dengan perasaanmu.

Azka, andaikan kamu ada disini. Aku ingin berbagi cerita tentang kehidupanku. Tentang pengalamanku. Dan juga tentang perasaanku.

Apa maksudmu padaku mengatakan kalau aku bohong dengan perasaanku? Aku tau kamu tidak suka dengan sikapku yang menjalin hubungan dengan Nafia. Aku tau aku salah.

Tapi aku tidak tau kenapa aku sangat mencintai gadis itu. Melupakan gadis yang aku cintai sama saja seperti mencintai orang yang aku benci.

Itu akan sangat sulit untuk ku lakukan. Aku sangat menyayangi Nafia namun aku juga tidak bisa memungkiri bahwa apa yang aku rasa ini salah. Aku salah dalam memilih jalan.

Tiba-tiba Fahmi datang sambil membawakan satu piring pisang goreng dan kopi hitam yang masih hangat. Jangan suka termenung bang. Kalau ada masalah jangan dipendam sendiri. Lebih baik cerita saja.

Memendam masalah itu sama saja dengan menanggung beban fikiran. Yang namanya beban itu berat bang. Ujar Fahmi sambil terus menatap indahnya langit di waktu malam.

Darimana saja kamu. Dari pagi tadi tidak kelihatan. Tanyaku sambil meminum kopi buatannya.

Hmm,. Kopinya enak. Kataku pelan.

Tadi pagi ada acara dikampus. Perpisahan kakak kelas. Oh ya bang. Malam-malam seperti ini enaknya memang minum kopi sambil ngobrol bareng. Memangnya apa yang sedang abang fikirkan?

Cuaca di Kota Lhueng Bata semakin terasa dingin. Angin yang berhembus perlahan-lahan membuat aku semakin rindu. Apalagi sudah seminggu aku tidak berbicara dengan Nafia. Seminggu terasa seperti setahun aku tidak mendengar suaranya.

Aku ingin mendengar suara gadis itu meskipun hanya lewat telpon. Bukan begitu Fahmi. Aku cuma merindukan seseorang.

Siapa itu bang? Apa abang merindukan keluarga abang di kampung? Sebesar apapun perasaan rindu itu pasti akan mencair bila tiba saatnya bang. Dan waktu itu sudah dekat.

Bukankah abang besok malam akan pulang kampung dengan membawa titel S1? Aku sudah bisa membayangkan bagaimana senangnya orangtua abang nantinya.

Aku malu mengatakan siapa yang sedang aku fikirkan. Tapi aku yakin kamu pasti mengenalnya. Dia satu kelas denganmu. Ya ya, aku sudah tau siapa yang abang rindu.

Pasti seorang gadis manis yang baik hatinya. Pasti Nafia. Iya kan? Bang, setahu aku Nafia itu banyak yang suka. Jangan tunggu lama-lama. Nanti di ambil orang.

Abang jangan marah dulu. Kata orang-orang, bila belum ada kata saya terima nikahnya Nafia Binti Muhammad Khairil. itu artinya cinta Nafia masih milik bersama. Bukankah begitu bang?

Kalaupun dia menikah dengan orang lain. Aku pasti akan terus mencintainya, dan itu bukan hanya cinta seorang lelaki kepada wanita. Tapi perasaanku kepada orang yang ku kagumi.

Dulu, ibu pernah ingin menjodohkanku dengan seorang gadis. Namanya Mutia. Tapi aku tidak suka? Kenapa bang? Bukankah pilihan ibu adalah ridha Tuhan?

Ibu memilih seseorang pasti yang berkesan di hatinya. Firasat ibu itu pasti baik lho bang. Fahmi, kamu belum tau seberapa besar cintaku pada Nafia.

Memang cantik gadis di kota, tapi aku tidak suka jika bukan dengan Nafia.

Ah,. Abang mulai deh gombalnya. Hehehe

Beneran lho, ini perasaan yang tulus dariku untuk gadis yang satu itu. Ujarku dengan nada sedikit membela.

Iya iya, aku tau. Di dunia ini ada dua macam manusia yang tidak bisa dinasehati. Yang pertama orang gila dan yang kedua orang yang sedang jatuh cinta. Ujar Fahmi tersenyum.

Tapi satu hal yang harus abang ingat. Sesuatu yang dimulai tanpa ridha Allah, pasti akan berakhir dengan airmata.

Maksudnya?...Klik SELENGKAPNYA