Responsive Ad Slot

Ekslusif

Catatan

Foto Aksi411

Video

Komentar

Goncangan Besar di Wilayah Selatan Tanah Anim Ha Papua

Posted on Rabu, 14 Juni 2017 Tidak ada komentar

Pada saat ini, Tanah Papua sedang beranda dalam goncangan besar karena adanya tsunami kemanusiaan. Jutaan rakyat yang ada di atas tanah Papua di lepas pantai, pesisir, pedalaman, pegunungan  menjerit, merintih, sedih  dan tangis. 

Saban hari kita hanya bisa mendengar nyanyian dengan syair elegi karena tragedi kemanusiaan yang menimpa rakyat melanesia di Tanah Papua makin lama makin menua dan makin kejam. Ratusan ribu orang menderita Karena  penangkapan, penganiayaan, menyiksaan, pembunuhan. 
Di Sini di tempat ini, tanah Marind, milik suku Marind Anim, Bumi Putera, pemilik sulung atas bumi, air dan segala isinya. 

Kita ini penguasa tanah (Land Lord), namun Perampasan kekayaan alam tiada tara bernilai melalui; hutan kita di pegunungan Asiki, dari sota hingga tempat penghuni suku mundup wanduk (muyu-mandobo yang  paruh-paruh dunia dirampok (ilegal loging), kini menjadi daerah perkebunan milik para taipan hoakiau, gunung-gunung emas, perak, minyak, uranium bahkan plutonium di jarah (ilegal maining), ikan-ikan di laut dan segala Biota dicuri (ilegal fisihing) dari muara sungai Maro hingga lepas pantai pulau Kimam. 

Adanya penetrasi kapital disertai  penetrasi sipil dan militer mengesampingkan bumi putra tersingkir dan tersungkur karena tercipta segresi antara abdi lokal Papua (blue colar) dan abdi asing dan migran sebagai (white colar) melalui diskriminasi upah dan jabatan dalam politik, pemerintahan dan korporasi. Penetrasi sipil juga menyebabkan mereka menguasai sumber daya ekonomi di bandar utama  tanah animha  kota merauke, sementara suku Marind putra/i bangsa melanesia tersingkir di pinggiran. 

Tingginya kematian ibu dan anak serta perlambatan pertumbuhan penduduk adalah indikasi nyata secara perlahan sedang terjadi bahaya genosida (slow motion genocida). Itulah kejahatan kemanusiaan yang terabaikan menjadi wilayah tragedi terlupa saat ini.  Selain itu juga kita dihadapkan pada bahaya liberalisasi  ekonomi, ilmu pengetahuan dan teknologi termasuk kecepatan teknologi yg bergerak ibarat jugernut yang melintasi jalan bebas hambatan dan tidak bisa dibendung dan tidak dapat ditolak. 

Di tengah situasi ini Pemimpin Papua, Gubernur dan Bupati harus siap untuk memutus rantai kejahatan dan siap-siap menghadapi perubahan. Untuk merubah tanah Tanah Melanesia ini, pemimpin harus melibatkan rakyat agar  menjadi bagian dari perubahan, harus, harus dan harus menjadi bagian dari mesin perubahan. 

Jadilah bagian tidak terpisahkan dari perubahan demi perubahan yang akan terjadi di tanah kita Papua".  Pemimpin harus mempersiapkan rakyat dengan 1) Pengetahuan (Knowledge) cukup. 2) ketrampilan (skills) memadai. 3) mental dan moralitas yang baik (attitute). Jika para pemimpin Papua tidak mempersiapkan rakyatnya jangan pernah menangis jika Anda dan saudara-saudara kita ditinggalkan oleh perubahan itu sendiri. 

Jika kita tidak berada dalam perubahan jangan pernah sedih kalau ditinggalkan oleh perubahan itu sendiri. Perubahan tidak pernah mengenal kata "kompromi", perubahan berada di gerbong besar jadi jangan pernah menagis dan jangan pernah menyesal jika kita ditinggalkan oleh gerbong perubahan. 

Natalius Pigai, dihadapan Ribuan Rakyat Suku Marind Anim, di Merauke, Tanah Animha, 13 Juni 2017

Akibat Cinta Ditolak, ES Bertindak

Posted on Rabu, 07 Juni 2017 Tidak ada komentar

Kapolres Aceh Barat Daya (Abdya), AKBP Andy Hermawan, SIK.MSc, bersama puluhan personil nya, membantu mengamankan proses rekontruksi yang digelar penyidik Reskrim Polres setempat, dalam hal mengungkap kasus pembunuhan satu keluarga di jalan Lukman desa Meudang Ara, kecamatan Blangpidie, Rabu (7/6/2017). 

Pembunuhan yang dilakukan ES, yakni merupakan Edy Syahputra (27), warga desa Lemah Burbana kecamatan Bebesan kabupaten Aceh Tengah, terhadap satu keluarga yakni Hj. Wirnalis (62), Habibi Askhar Balihar (8) dan Fakhrurrazi (12), pada Selasa dini hari (16/5), baru diketahui pada Rabu (17/5) sekira pukul 13.30 Wib. 

Pelaku pembunuhan itu kini sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh Kapolres Abdya Andy Hermawan pada Sabtu (20/5/2017) lalu, dan pada hari ini Rabu (7/6) tersangka pelaku melakoni kembali yakni rekontruksi pembunuhan tersebut di lokasi terjadi pembunuhan. 

"Kita sudah melakukan rekontruksi," ucap Kapolres Andy Hermawan. 

Kini, ES harus mempertanggungjawabkan perbuatan keji nya itu. ES diancam hukuman mati karena telah membantai nyawa orang lain dengan kesengajaan, berdasarkan pasal-pasal yang disangkakan terhadapnya. 

Pembunuhan berencana yang dilakukan ES bukan tanpa sebab, sebelumnya, dikatakan Kapolres, ES bersama keponakan korban memiliki hubungan asmara, keponakan korban itu bernama Rahmi. Dan, jauh hari sebelum kejadian pembunuhan itu, ES bersama korban sudah pernah duduk membicarakan tentang pernikahan Rahmi dengan ES, hal itu terjadi di Banda Aceh. 

"Tapi pihak korban menolak, hingga terjadi pembunuhan itu," katanya.

Muhammad Taufik

Tentang Sampah Plastik di Laut, ini Kata Menko Luhut

Posted on Tidak ada komentar

Menko Maritim Luhut Pandjaitan menegaskan Konferensi Kelautan Dunia PBB adalah untuk melakukan kerjasama menyelesaikan masalah kelautan di dunia. 

"Dalam konferensi ini kami para peserta berkomitmen untuk saling bekerjasama satu sama lain untuk mengatasi masalah ini. Terkadang orang melihat kami, Indonesia, sebagai korban (sampah plastik di laut) karena posisi negara kami yang strategis. Tetapi kami berpikir masalah ini harus diatasi dengan kerjasama antar negara," ujarnya saat menjawab pertanyaan media pada konferensi pers yang dilakukan di sela-sela Konferensi Kelautan Dunia hari Selasa (6/6) waktu setempat. 

Dalam acara tersebut menko Luhut didampingi Menteri Iklim dan Lingkungan Norwegia VIdar Helgesen yang secara bersama memimpin Konferensi tersebut. 

 Menko Luhut mengatakan ada tiga hal pokok yang didiskusikan. 

"Yang utama adalah bagaimana mengatasi masalah sampah, illegal fishing dan lalu kita bicarakan bagaimana mengimplemantasikan hasil diskusi ini sehingga tidak hanya wacana di kemudian hari," katanya. 

Untuk Indonesia sendiri, Menko Luhut mengatakan, telah menerapkan beberapa aksi untuk mengurangi persoalan sampai ini, terutama yang berdifat sosialisasi untuk memperbaiki pandangan masyarakat soal sampah. 

"Kami memasukkannya dalam kurikulum sekolah, melakukan sosialisasi ke lingkup terkecil di masyarakat, meminimalkan pembuangan sampah plastik ke laut dan sebisa mungkin melakukan pemungutan sampah plastik di laut," jelas Menko Luhut. 

     *Peningkatan kesejahteraan*

Menko Luhut menjelaskan bahwa kerusakan laut dan _illegal fishing_ akan mempengaruhi kehidupan masyarakat Indonesia karena Indonesia yang terdiri dari 17,000 pulau dengan 4,000 pulau berpenduduk dan memiliki 99,000 km garis pantai, tentunya banyak yang menggantungkan hidupnya pada lautan. 

" _Illegal fishing_ , kerusakan alam laut, tentu akan mempengaruhi kehidupan orang-orang yang bergantung pada kekayaan laut, seperti nelayan tetapi juga sektor pariwisata karena sektir ini merupakan salah satu penyumbang pendapatan negara terbesar," katanya. 

Menko Luhut menjelaskan terorisme juga menjadi salah satu masalah yang dihadapi bangsa Indonesia, kebanyakan pelaku teror di Indonesia berlatar belakang keluarga miskin. Karenanya pemerintah berusaha untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, salah satunya dengan program Dana Desa, "Kami telah menyalurkan bantuan dana desa kepada 7,4975 desa di pedalaman dan desa-desa terpencil di garis pantai. Mungkin bagi Anda ini sesuatu yang tidak berarti tapi ternyata bantuan ini cukup untuk membuat perekonomian bergerak dan diaharapkan dapat meningkatkan taraf hidup masyarakatnya," kata Menko Luhut.

Menurut Menteri Helgelsen, dalam dua hari konferensi, peserta membicarakan berbagai topik yang berhubungan dengan kemaritiman seperti pengaturan, perlindungan, konservasi, dan restorasi dan beberapa komitmen dari negara-negara donor telah dibuat untuk melaksanakannya," kata Helgelsen. 

Konferensi ini diikuti oleh hampir 1,800 peserta antara lain delapan kepala negara, satu wakil presiden, tujuh perdana menteri dan perwakilan pemerintahan serta LSM.***

Di Gubuk 4 x 4 Meter, Rusli Tinggal Bersama Istri dan Lima Anaknya

Posted on Jumat, 02 Juni 2017 Tidak ada komentar

Pembina Blood For Life Foundation (BFLF) Aceh Barat Daya (Abdya) Muslizar. MT, bersama rombongan mengunjungi rumah kaum duafa, Rusli (44), warga desa Cot Seumantok kecamatan Babahrot kabupaten setempat, Jum'at (2/6/2017).

Kunjungan dibulan yang penuh berkah ini diterima Rusli bersama Aisyah dan didampingi dua anaknya. Dalam hal ini, kunjungan pembina BFLF Abdya dalam rangka rasa kepedulian sesama seperti yang sudah dijalankan BFLF Abdya, yang diangkat tema "Rumahmu, Amal Ibadahku". 

Pembina BFLF Abdya, Muslizar. MT mengatakan kunjungan tersebut merupakan dasar laporan dari warga setempat, bahwa Rusli yang berprofesi sebagai buruh dikebun warga ini dalam kondisi memprihatinkan, sebab, ayah dari lima anak itu tinggal dalam gubuk berukuran 4x4 meter. 

"Kita harus bersyukur, walaupun dalam keadaan bagaimanapun, Allah juga harus selalu diingat," kata Muslizar. 

Pengakuan Aisyah, keluarganya sebelum itu tinggal di rumah orang tuanya di Lampeuneurut kabupaten Aceh Besar, karena hendak mengubah nasib, Rusli bersama Aisyah berangkat menuju Abdya karena lebih mudah mencari pekerjaan menurut kabar burung, hingga Rusli mendapatkan pekerjaan di PT. Cemerlang Abadi sebagai buruh kasar. 

"Sekarang tidak lagi, karena jatuh sakit hingga keluar darah dari mulut dan hidung," ungkap Aisyah dalam keadaan baru pulang dari sawah. 

Sementara, Rusli bersama istri dan 5 orang anaknya harus bersabar dalam keadaan gubuk yang ada. Empat diantaranya putra-putri pasangan Rusli dan Aisyah ini masih dalam pendidikan, yakni dua disekolah tingkat pertama dan duanya lagi disekolah dasar, sedangkan yang satu lagi masih balita. 

"Alhamdulillah dan terima kasih atas kunjungan, semoga harapan kita dapat tercapai," harap Rusli. 

Dalam kesempatan itu, Pembina BFLF Abdya Muslizar. MT turut didampingi Harmansyah dan Dewan Pengawas BFLF Abdya Kamaruzzaman. 

Muhammad Taufik

Pers Dicekik dan Dikatain Monyet, Ini Hukumannya...

Posted on Kamis, 01 Juni 2017 Tidak ada komentar

Di mana Pers di Indonesia pada masa reformasi memiliki kebebasan untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat tentang suatu peristiwa yang sedang terjadi.

Namun lahirnya kebebasan pers ini juga diikuti dengan meningkatnya ancaman keamanan terhadap pekerja pers termasuk para wartawan. 

Hal ini terbukti adanya kasus tindak kekerasan dan penghinaan yang dialami jurnalis Bunaiyah Fauzia Arubone, wartawan  rakyat merdeka online ( RMOL ).

Peristiwa ini berawal pada saat Bunaiyah melakukan peliputan acara Menteri PUPR Basoeki Hadimoeljono yang hendak membagi-bagikan plakat di acara pengukuhan pengurus Badan Kejuruan Teknik Lingkungan Persatuan Insinyur Indonesia periode 2017-2020,  di lantai 17, gedung utama , Kementrian PUPR, Jakarta Selatan.

Ketika Bunaiyah melakukan pemotretan Mentri PUPR, disaat bersaman, seorang yang mengaku petugas protokoler memintanya beranjak pergi, dengan alasan  ingin menaruh gelas.

Bunaiyah yang sedang menjalankan tugas, mengaku di situs berita rmol.com untuk meminta izin mengambil foto lebih dahulu sebelum menyingkir. Tetapi, petugas tersebut menurut pengakuan Bunaiyah yang sempat mengucap "saya bilang sebentar bang belum dapat foto bagus." 

Namun disayangkan, profesi wartawan atau jurnalis yang dilindungi dalam UU Pers No. 40 Tahun 1999, bedasarkan ketetapan DPR RI pada Bab VIII perihal ketentuan pidana Pasal 18 poin 1 yang menyebutkan,setiap orang yang secara hukum dengan sengaja melakukan tindakan yang berakibat menghambat atau menghalangi pelaksanaan ketentuan pasal 4 Ayat (2) dan ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun atau denda paling banyak Rp. 500.000.000,- (lima ratus juta rupiah)

Justru telah dilanggar protokoler Kementrian PUPR dengan ucapan  tidak menyenangkan dan berusaha menghalangi tugas profesi wartawan dengan pernyataan,nya "monyet nih anak" yang ditujukan kepada Bunaiyah.

Namun Saat Bunaiyah hendak mengkonfirmasi  terkait statement protokoler tersebut, justru Jurnalis Rakyat Merdeka Online tersebut mendapat cekikan sambil didorong ke luar ruangan.

Tak henti disitu, Bunaiyah yang memegang kartu pers resmi Rakyat Merdeka Online pun tak di respon

Kondisi ini merupakan Tindakan kekerasan dan telah menghalang-halangi profesi jurnalis saat melakukan tugas peliputan.

Dengan ini, Kamerawan JurnaIis Indonesia ( KJI ) menyatakan sikap  mengecam keras tindakan oknum pelaku kekerasan terhadap jurnalis tersebut.

Kji meminta pihak kepolisian untuk mengusut dan memproses para pelaku tindak kekerasan dan penghinaan terhadap jurnalis tersebut.

Peritiwa ini menunjukan ketidak pahaman atas tugas seorang wartawan atau jurnalis dengan di abaikannya uu pers

Dalam peristiwa kekersan dan penghinaan tersebut korban mengalami trauma.

Kini pihak kementerian PUPR saat di konfirmasi telah mendatangi kantor dimana tempat Bunaiyah bekerja yang diwakili Kepala Humas KemenPUPR Gustav.
Untuk meminta Maaf.



Harwin Brams
Ketua Umum Kameraman Jurnalis Indonesia (KJI)

Sekjen Kementan: Pangan Fondasi Pemersatu Bangsa

Posted on Tidak ada komentar

Memperingati lahirnya Pancasila,
Kementerian Pertanian (Kementan) menyelenggarakan upacara yang diikuti seluruh  Eselon I dan karyawan  Kementan bertempat di lapangan kantor pusat, Jakarta (1/6/2017). Upacara tersebut dipimpin Sekretaris Jenderal Kementan, Hari Priyono.

Dalam kesempatan ini Hari Priyono menyampaikan pesan tertulis Presiden RI  yang meminta agar kita tetap mememlihara persatuan dan kesatuan bangsa. 
Usai upacara, ketika diminta peranan Kementan dalam memaknai persatuan dan kesatuan ini kepada media Hari Priyono menegaskan bahwa pangan merupakan fondasi penting untuk itu  Kementan telah melakukan tugasnya dalam pemenuhan pangan tersebut. 
Ia juga menyampaikan bahwa keberadaan pangan  juga merupakan alat untuk menjaga persatuan dan kesatuan NKRI. Menurutnya, ketersediaan pangan tidak boleh berkurang.

"Pasalnya, jika suatu wilayah tertentu yang masyakaratnya sulit mengakses pangan, makandapat menyebabkan distorsi persatuan dan kesatuan bangsa," tegasnya

Oleh karena itu, Hari mengungkapkan salah satu program prioritas Kementan yakni membangun pangan di wilayah perbatasan. Hal ini tidak hanya dalam rangka membangun kedaulatan pangan, akan tetapi untuk mempertahankan keutuhan NKRI. 

"Untuk itu pemerintah harus mampu menyediakan kebutuhan pokok masyarakat yaitu pangan," ungkapnya.

Hari menambahkan menjelang bulan puasa sampai dengan saat ini, ketersediaan dan harga pangan masih terjaga. Begitu juga dengan pasar komoditas pangan masih tersedia. 

"Walaupun dalam kondisi tersebut terdapat dinamika tetapi masih dalam situasi toleransi. Harga naik bukan berarti pangan tidak tersedia. Kita bisa lihat, pasar komoditas tersedia dengan baik dan merata di semua daerah," ujarnya.

"Oleh karena itu, peran seluruh jajaran Kementan terus meningkatkan capaian produksi pangan," demikian pungkas Hari.‎ (*)

Becak Dayung Bantuan "Sahabat BFLF Abdya" Diserahkan ke Nek Apok

Posted on Senin, 29 Mei 2017 Tidak ada komentar

Ketua Pembina Blood For Life Foundation (BFLF) Aceh Barat Daya (Abdya), Muslizar. MT menyerahkan becak dayung kepada Samsuar (55) warga desa Alue Rambot kecamatan Lembah Sabil kabupaten setempat, Senin (29/5/2017). 

Pantauan Istanapos.com dilokasi, becak dayung yang diserahkan Itu, berbeda dengan becak dayung seperti yang sering digunakan oleh orang-orang lain, pasalnya, becak dayung yang diserahkan kepada Nek Apok ini harus menggunakan tangan untuk didayung, jika becak dayung yang selama ini menggunakan kaki.

Becak hasil rakitan sendiri BFLF Abdya itu, merupakan bantuan dari sahabat dermawan BFLF untuk warga tidak mampu, demi lancarnya aktifitas warga tersebut, lembaga sosial yang bergerak dibidang kebutuhan darah ini juga ikut memperhatikan warga yang membutuhkan uluran tangan para dermawan dan pemerintah. 

Penyerahan becak dengan tema "Bantuan Sahabat BFLF Abdya" itu yang diserahkan langsung oleh Ketua Pembina BFLF Abdya Muslizar. MT juga selaku Wakil Bupati Abdya terpilih yang berpasangan dengan Akmal Ibrahim, SH Bupati Abdya terpilih periode 2017-2022.

Samsuar, alias Nek Apok yang menerima langsung bantuan tersebut sangat merasa bersyukur, karena, jika sebelumnya Nek Apok hanya menggunakan "situk"  (pelepah pinang) jika hendak kemana-mana. Tak terkecuali ke Mesjid, saat Nek Apok hendak shalat berjama'ah, ia dibantu tarik oleh anak tetangga menggunakan situk. 

"Alhamdulillah saya sangat senang, semoga Allah membalas kebaikannya," ucap Nek Apok seraya bersyukur atas bantuan sahabat BFLF Abdya untuknya. 

Kepala Bidang Kesehatan (Kabid) BFLF Abdya, Aroel menyatakan, bantuan hasil sumbangan dari para dermawan sahabat BFLF Abdya ini merupakan berkat informasi yang disampaikan BFLF Abdya melalui media-media sosial. Aroel juga berharap, dibulan yang penuh berkah ini, bantuan yang diberikan tersebut dapat bermanfaat. 

"Sebagaimana harapan nek Apok, bahwa ia tarawih dibulan puasa ini dapat dilaksanakan secara berjama'ah di mesjid," sebut Aroel. 

Ia juga mengungkapkan, bahwa niat Nek Apok berharap dapat melaksanakan ibadah shalat tarawih berjama'ah di Mesjid, layaknya orang yang masih utuh anggota tubuhnya, kini tercapai hendaknya. 

"Semoga saja bermanfaat," ucapnya. 

Sedangkan Akmal Ibrahim, yang ikut menyaksikan penyerahan becak bantuan itu mengatakan, bahwa pemberian becak bantuan tersebut bentuk rasa kepedulian BFLF Abdya kepada Nek Apok, berharap kepada penerima dapat memanfaatkannya untuk kebutuhan aktifitas sehari-hari, termasuk ke jika hendak ke mesjid. 

"Nanti setelah pelantikan, becak ini kita ganti dengan becak menggunakan mesin motor metic," kata Akmal Bupati Abdya terpilih yang saat ini masih menanti masa pelantikan. 

Penyerahan bantuan becak dayung itu ikut disaksikan Bupati Abdya terpilih Akmal Ibrahim, SH, Dewan Pengawas BFLF Abdya Kamaruzzaman, Kapolsek Manggeng Sunardi Yahmin, Keuchik Alue Rambot diwakili oleh Sekdes dan disaksikan puluhan warga setempat. 

Muhammad Taufik
Don't Miss